Kritik Sir Alex Ferguson terhadap Performa Arsenal
Setelah pertandingan final Liga Champions yang berlangsung di Stadion Puskas Arena, Budapest, beberapa pihak mulai menyoroti performa Arsenal. Salah satunya adalah mantan pelatih legendaris Manchester United, Sir Alex Ferguson, yang dilaporkan mengirimkan pesan teks kepada Presiden PSG, Nasser Al-Khelaifi, untuk mengkritik permainan The Gunners.
Arsenal berhasil meraih gelar Liga Inggris setelah 22 tahun tanpa gelar, dengan memenangkan persaingan ketat melawan Manchester City. Mereka finis tujuh poin di atas rival mereka, yang membuat kejayaan ini menjadi momen penting dalam sejarah klub. Namun, kesempatan untuk meraih gelar ganda bersejarah harus sirna setelah kalah dari PSG dalam adu penalti.
Pertandingan dimulai dengan baik bagi Arsenal. Kai Havertz mencetak gol cepat pada menit keenam, memberikan keunggulan sementara bagi tim asuhan Mikel Arteta. Namun, PSG bangkit dan menyamakan skor melalui tendangan penalti Ousmane Dembele. Drama adu penalti pun berlangsung, dengan dua pemain Arsenal, Eberechi Eze dan Gabriel Magalhaes, gagal menyelesaikan tugas mereka. Hal ini akhirnya memastikan kemenangan bagi PSG.
Arteta, yang tampak kecewa setelah pertandingan, mengucapkan selamat kepada PSG dan menyebut mereka sebagai tim terbaik di dunia. Ia juga menyampaikan rencana untuk melakukan evaluasi mendalam setelah kekalahan tersebut. “Kita akan mulai mengambil beberapa keputusan yang sangat penting jika kita ingin mencapai level yang lebih tinggi,” ujarnya.
Banyak analisis menunjuk pada kelemahan lini depan Arsenal, khususnya dalam hal daya serang. Legenda Liverpool, Jamie Carragher, bahkan menyarankan penambahan pemain di posisi penyerang tengah dan sayap kiri menjelang musim 2026/2027.
Menurut laporan surat kabar Prancis L’Equipe, Ferguson disebut menganggap penampilan Arsenal membosankan. Namun, menurut The Telegraph, ia tidak menggunakan istilah tersebut. Dalam pesan teksnya kepada Al-Khelaifi, Ferguson justru menyatakan bahwa “kalian adalah tim yang bermain sepak bola.”
Skuad Arsenal kini harus segera bangkit dari kekalahan tersebut. Parade gelar Liga Inggris mereka berlangsung di London Utara, dengan ratusan ribu orang membanjiri jalanan. Acara ini menyebabkan gangguan serius pada transportasi umum, termasuk London Underground dan Overground.
Perayaan Arsenal berlangsung melalui rute sejauh 5,6 mil, melewati Islington, Highbury, dan Canonbury. Mereka mengakhiri parade di sekitar stadion Emirates, sebagai bentuk apresiasi terhadap keberhasilan mereka meraih gelar Liga Inggris.
Evaluasi dan Tantangan Berikutnya
Setelah kalah di Liga Champions, Arsenal kini harus fokus pada evaluasi dan perbaikan. Beberapa isu utama yang muncul antara lain:
- Kekurangan daya serang: Tim asuhan Arteta terlihat kurang efektif dalam menciptakan peluang, terutama saat menghadapi tim kuat seperti PSG.
- Ketidakmampuan menguasai bola: Dalam pertandingan tersebut, Arsenal hanya menguasai 25% penguasaan bola, yang menjadi salah satu faktor kekalahan.
- Masalah di lini depan: Banyak pengamat menilai bahwa kekurangan di posisi penyerang tengah dan sayap kiri menjadi hambatan utama bagi tim.
Arteta mengakui bahwa ambisi besar diperlukan untuk mencapai level yang lebih tinggi. “Kita harus menunjukkan ambisi itu karena kita lebih dari mampu melakukannya, tetapi itu akan menuntut ambisi yang sangat besar, kecepatan yang sangat tinggi, dan kecerdasan yang sangat tinggi,” katanya.
Dengan gelar Liga Inggris yang telah diraih, Arsenal kini memiliki momentum untuk memperbaiki kelemahan dan bersiap menghadapi tantangan di musim mendatang.





